Kisah Meybi Agnesya: Perjalanan Mendirikan Timor Moringa

Meybi Agnesya Lomanledo, perempuan muda asal Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, tumbuh dalam realitas hidup yang tidak mudah. Latar belakang keluarga yang berpisah tidak menghentikan langkahnya untuk mengejar kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Justru keadaan itu menumbuhkan tekad dan dorongan kuat dalam dirinya untuk membuktikan bahwa setiap anak dari daerah terpencil pun dapat memiliki masa depan yang layak.

Kesadaran kuat Meybi untuk kembali ke kampung halaman, lahir setelah ia menempuh pendidikan dan bekerja di Bali. Saat kembali ke NTT, ia menemukan kenyataan pahit: provinsi ini memiliki angka stunting tertinggi di Indonesia. Namun, di balik tantangan itu, Meybi melihat “missing link” yang selama ini terabaikan — yaitu potensi besar daun kelor, tanaman lokal yang telah dikenal dunia sebagai Superfood.

Melalui kunjungan lapangan dan pendampingan kepada petani, Meybi menyadari bahwa kemiskinan bukan hanya soal akses ekonomi, tetapi juga minimnya pengetahuan terkait pangan bergizi serta ketidakstabilan harga komoditas. Daun kelor yang tumbuh melimpah di NTT sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi, namun belum dikelola secara optimal.

Pada 2017, dari kesadaran inilah Timor Moringa mulai lahir. Meybi memulai langkah kecil dengan mendidik dan mengorganisir para petani lokal untuk mengembangkan kelor secara organik. Ia memperkenalkan pola panen yang berkelanjutan, standar kualitas pascapanen, hingga proses pengolahan produk bernilai tinggi. Baginya, kelor bukan sekadar komoditas, tetapi gerakan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan melawan stunting melalui pangan bergizi.

Perjalanan Meybi tidak berhenti di situ. Pada 2018, ia terpilih sebagai Duta Petani Muda Indonesia, yang membuka jalan baginya tampil di berbagai forum nasional dan internasional. Ia semakin yakin bahwa perempuan muda dari NTT juga dapat menjadi pemimpin perubahan. Ia memimpin Timor Moringa dengan visi besar: “Dari petani untuk petani,” memberdayakan anak muda desa, membuka lapangan kerja lokal, dan menciptakan rantai nilai kelor dari hulu hingga hilir.

Hingga hari ini, Meybi terus membawa nama Timor Moringa sebagai contoh model UMKM yang tidak hanya memproduksi pangan berkualitas, tetapi juga membangun dampak sosial yang nyata.

Meybi percaya bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari satu tekad sederhana: pulang ke rumah, melihat ulang potensi yang dilupakan, dan memilih untuk membangunnya bersama masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *